Awal saya membuat majalah dinding
dirumah adalah ketika anak-anak belajar memegang alat tulis. Sebenarnya sih
niat awalnya bukan membuat mading, melainkan hanya dalam rangka mengamankan
tembok rumah kontrakan. Saat itu kami belum mempunyai rumah pribadi, maka
ketika anak-anak akan mencoret-coret dinding rumah yang kami tempati saya segera
berlari mencari kertas. Kertas-kertas bekas inilah yang digunakan anak-anak
untuk coret-mencoret dan menggambar. Ternyata anak-anak tetap penasaran ingin merasakan
sensasi menggambar sambil berdiri (menggambar dan mencoret-coret dinding). Maka
dari itu, tidak kehabisan akal saya menyobek beberapa lembar kalender yang
sudah tidak terpakai kemudian saya tempel di dinding ruang keluarga. Akhirnya
anak-anak bisa bebas mencoret, menggambar, menempel dan mengecap dikertas
kalender tersebut dengan sensasi bebas seperti mencoret-coret dinding. Bahagia
rasanya, melihat dinding tetap bersih dan anak-anak bisa bebas berekspresi.


Ternyata
memandang hasil karya anak di dinding, hati saya merasa senang. Coretan
anak-anak itu memberi kesan ceria. Kemudian dari gambar-gambar itu juga
anak-anak suka bercerita, menceritakan apa yang mereka gambar. Gambar-gambar dan
cap tangan anak belepotan coklat tak beraturan itu ternyata menyimpan banyak
cerita.
Anak-anak
tumbuh dan bertambah pula kreativitasnya, memasuki usia lima tahun anak-anak
sudah mulai tertarik mewarnai gambar. Semakin bertambah pula pekerjaan saya
dirumah, yaitu menyiapkan gambar untuk diwarnai. Hampir setiap hari anak-anak
meminta gambar baru, mau tidak mau ya ibu harus mau. Gambar-gambar yang telah
diwarnai akhirnya menumpuk, tambah hari bertambah banyak. Agar dapat tersimpan
rapi, saya membuat map berisi portofolio hasil karya anak. Dan sebagian gambar
yang sedang menarik anak, akan saya tempel di dinding sebagai apresiasi bagi
anak atas hasil karyanya.

Melihat
hasil karyanya ditempel, anak-anak akan senang dan suka sekali memandang hasil
karyanya. Mengambil kesempatan ini saya sering menuliskan tulisan besar sesuai
dengan gambar anak. Sambil menyelam minum air, saya mengajak mereka mengeja
kata-kata itu sambil menunjuk gambarnya jadilah mereka belajar membaca. Secara
tidak sadar mereka belajar mengenal kata, setiap ada gambar baru maka pasti
tambah satu kosa kata baru yang mereka pahami.
Ketika
anak-anak masuk jenjang sekolah, hal ini terus saya biasakan. Sudah mulai
tertata dan rapi, buka hanya gambar-gambar saja yang tertempel di dinding ruang
keluarga kami. Namun bertambah tulisan-tulisan yang ditulis oleh anak-anak.
Juga berisi harapan, agenda kegiatan anak, peraturan-peraturan yang kami sepakati
bersama untuk kedisiplinan bersama dirumah.
Membuat mading
keluarga adalah momen yang menyenangkan buat kami, karena pasti setelah mading
baru selesai dan ditempel diruang keluarga akan ada suasana baru disana. Majalah
dinding ini sangat membantu sebagai media komunikasi keluarga kami. Biasanya
kami mengganti majalah dinding keluarga saat ada momen-momen tertentu, misal
saat memasuki tahun ajaran baru, saat tahun baru, saat Ramadhan, dan saat-saat
kami membutuhkan suasana dan semangat baru.


Menurut Wikipedia disebut majalah
dinding karena prinsip dasar majalah terasa dominan di dalamnya, sementara itu
penyajiannya biasanya terpampang pada dinding atau yang sejenisnya. Prinsip
majalah tercermin lewat penyajiannya, baik yang berwujud tulisan, gambar, atau
kombinasi dari keduanya. Dengan prinsip dasar bentuk kolom-kolom,
bermacam-macam hasil karya, seperti lukisan, vinyet, teka-teki silang,
karikatur, cerita bergambar, dan sejenisnya disusun secara variatif. Semua
materi itu disusun secara harmonis sehingga keseluruhan perwajahan mading
tampak menarik. Karena mading itu menarik, maka tidak salah bila jadi pusat
perhatian didalam keluarga.


Majalah dinding keluarga dapat menjadi bahan literasi yang menarik bagi semua anggota keluarga. Orang tua dapat menyesuaikan isi mading dengan kebutuhan dan ketertarikan anak pada sesuatu saat itu. Selain itu adanya mading dirumah dapat menumbuhkan minat literasi dan membudayakan literasi keluarga. Mading sebagai alternatif yang mudah disiapkan untuk membudayakan literasi dirumah, diluar membacakan buku, berdiskusi dan tersedianya perpustakaan keluarga.