Selasa, 01 Maret 2022

Kembang Rejasa nggawa cerita

 


Nalika kembang rejasa nggawa cerita.

Lumakune dina,

Ora bisa disigeg mandhek.

Tansah lumaku runtut nut marang, pepasthene Gusti.

 

Sakabehan cerita,

Karakit kanthi endah.

Ing nala,

Sakabehing paraga

Ing kene, SMP N 8 Salatiga

 

Kelangan, iya...

Nanging ya kudu rila, merga ora bisa endha.

Kanggo netepi kewajiban minangka abdine negara.

 

Maneka warna donga kaucap.

Suk sakwise dina iki,

Ing kana bisa cerita,

Ing kene uga bisa  dadi cerita.

 

Ceritane awake dhewe bebarengan

Gegandhengan,

Mawujudake gegayuhan.

 

Kembang rejasa isuk iki ngebaki plataran.

Nyekseni ,

Menawa awake dhewe iki ora pisahan,

Nanging mung srana netepi jejibahan

 

Sugeng ngayahi amanah enggal

Mugi tansah semangat makantar-kantar

Kados nalika wonten mriki, wonten ing SMPN 8 Salatiga

 

Katresnan ingkang sepisanan niku awrat kangge nyupekkake

Ananging mangga move on sareng-sareng

 

Mirsani ngajeng, kanthi bagya mulya

Mirsani wingiking, kanthi esem ngujiwat

Numpak Prau

 


 











Mbangun bebrayan kuwi kaya ngumbara

Akeh pepalang, akeh pacoban

Keh wong ngomong

Kaya-kaya numpak prau ing segara

Ya ana nahkodane

Ya ana penumpange

 

Ana kalane nyilem ing sanjerone segara mau

Sing mesthi aja nganti kanyut,

Kudu bisa munggah maneh ing prau

Nerusake laku

Bab prahara ing sajerone

Sing diprangguli

 

Kuwi wis mesthi...

Nanging muga prau mau tansah kuat

Lelayaran ing samudra penguripan

Lelandhesan janji suci marang Gusti

Kuat nglakoni samubarang

Kang endah

Utawa susah

Muga tansah nyawiji

Nganti tekaning pati

Barang Nyalawadi




Bocah-bocah iki sajatine isih suci

Resik kaya dluwang

Putih memplak

Durung ana orek-orekan

Sing ngregeti

 

Bocah-bocah iki sejatine sok ngenteni

Kayak ngapa wong tuwa sing nggambari

Menehi werna endah

Saben wayah

 

Ananging

Barang nyalawadi kuwi

Ndadekake aring

Barang kuwi padha dicekeli

Nganti lali

 

Playunene wektu gilir gumanti

Wusanane barang nyalawadi

Ora bisa maneh diuculi

Saka tangan-tangan sing isih cekli

 

Mbok menawa sing bisa nambani, mung …

Katresnane bapa ibu sing mbanyu mili

Tansah nelesi pulunging ati

Ngrenggani dina-dina sing bakal dilewati

Selasa, 04 Januari 2022

Membuat Majalah Dinding di Ruang Keluarga


Awal saya membuat majalah dinding dirumah adalah ketika anak-anak belajar memegang alat tulis. Sebenarnya sih niat awalnya bukan membuat mading, melainkan hanya dalam rangka mengamankan tembok rumah kontrakan. Saat itu kami belum mempunyai rumah pribadi, maka ketika anak-anak akan mencoret-coret dinding rumah yang kami tempati saya segera berlari mencari kertas. Kertas-kertas bekas inilah yang digunakan anak-anak untuk coret-mencoret dan menggambar. Ternyata anak-anak tetap penasaran ingin merasakan sensasi menggambar sambil berdiri (menggambar dan mencoret-coret dinding). Maka dari itu, tidak kehabisan akal saya menyobek beberapa lembar kalender yang sudah tidak terpakai kemudian saya tempel di dinding ruang keluarga. Akhirnya anak-anak bisa bebas mencoret, menggambar, menempel dan mengecap dikertas kalender tersebut dengan sensasi bebas seperti mencoret-coret dinding. Bahagia rasanya, melihat dinding tetap bersih dan anak-anak bisa bebas berekspresi.




Ternyata memandang hasil karya anak di dinding, hati saya merasa senang. Coretan anak-anak itu memberi kesan ceria. Kemudian dari gambar-gambar itu juga anak-anak suka bercerita, menceritakan apa yang mereka gambar. Gambar-gambar dan cap tangan anak belepotan coklat tak beraturan itu ternyata menyimpan banyak cerita.

Anak-anak tumbuh dan bertambah pula kreativitasnya, memasuki usia lima tahun anak-anak sudah mulai tertarik mewarnai gambar. Semakin bertambah pula pekerjaan saya dirumah, yaitu menyiapkan gambar untuk diwarnai. Hampir setiap hari anak-anak meminta gambar baru, mau tidak mau ya ibu harus mau. Gambar-gambar yang telah diwarnai akhirnya menumpuk, tambah hari bertambah banyak. Agar dapat tersimpan rapi, saya membuat map berisi portofolio hasil karya anak. Dan sebagian gambar yang sedang menarik anak, akan saya tempel di dinding sebagai apresiasi bagi anak atas hasil karyanya.

 


Melihat hasil karyanya ditempel, anak-anak akan senang dan suka sekali memandang hasil karyanya. Mengambil kesempatan ini saya sering menuliskan tulisan besar sesuai dengan gambar anak. Sambil menyelam minum air, saya mengajak mereka mengeja kata-kata itu sambil menunjuk gambarnya jadilah mereka belajar membaca. Secara tidak sadar mereka belajar mengenal kata, setiap ada gambar baru maka pasti tambah satu kosa kata baru yang mereka pahami.  

Ketika anak-anak masuk jenjang sekolah, hal ini terus saya biasakan. Sudah mulai tertata dan rapi, buka hanya gambar-gambar saja yang tertempel di dinding ruang keluarga kami. Namun bertambah tulisan-tulisan yang ditulis oleh anak-anak. Juga berisi harapan, agenda kegiatan anak, peraturan-peraturan yang kami sepakati bersama untuk kedisiplinan bersama dirumah.


Membuat mading keluarga adalah momen yang menyenangkan buat kami, karena pasti setelah mading baru selesai dan ditempel diruang keluarga akan ada suasana baru disana. Majalah dinding ini sangat membantu sebagai media komunikasi keluarga kami. Biasanya kami mengganti majalah dinding keluarga saat ada momen-momen tertentu, misal saat memasuki tahun ajaran baru, saat tahun baru, saat Ramadhan, dan saat-saat kami membutuhkan suasana dan semangat baru.


Menurut Wikipedia disebut majalah dinding karena prinsip dasar majalah terasa dominan di dalamnya, sementara itu penyajiannya biasanya terpampang pada dinding atau yang sejenisnya. Prinsip majalah tercermin lewat penyajiannya, baik yang berwujud tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya. Dengan prinsip dasar bentuk kolom-kolom, bermacam-macam hasil karya, seperti lukisan, vinyet, teka-teki silang, karikatur, cerita bergambar, dan sejenisnya disusun secara variatif. Semua materi itu disusun secara harmonis sehingga keseluruhan perwajahan mading tampak menarik. Karena mading itu menarik, maka tidak salah bila jadi pusat perhatian didalam keluarga.



Majalah dinding keluarga dapat menjadi bahan literasi yang menarik bagi semua anggota keluarga. Orang tua dapat menyesuaikan isi mading dengan kebutuhan dan ketertarikan anak pada sesuatu saat itu. Selain itu adanya mading dirumah dapat menumbuhkan minat literasi dan membudayakan literasi keluarga. Mading sebagai alternatif yang mudah disiapkan untuk membudayakan literasi dirumah, diluar membacakan buku, berdiskusi dan tersedianya perpustakaan keluarga.








Sabtu, 01 Januari 2022

TIPS MENYETRIKA CEPAT, RAPI, BONUS INSPIRASI


Salah satu pekerjaan rumah yang tidak akan pernah ada habisnya adalah menyetrika. Selama kita menginginkan pakaian yang kita kenakan itu rapi bebas kusut, ya mau tidak mau harus menyetrikanya. Bagi Sebagian ibu-ibu menyetrika adalah sebuah pekerjaan yang sangat menyebalkan karena menguras banyak waktu dan tenaga. Namun tenang saja bagi ibu-ibu yang malas dengan semua urusan pergombalan, ada banyak pilihan agar terbebas dengan aktivitas ini, misal diserahkan pada jasa binatu yang telah menjamur disekitar kita. Tidak menutup kemungkinan juga banyak ibu-ibu yang lebih puas bila pakaian keluarga dikelola sendiri, mulai dari mencuci, mengeringkan, dan menyetrika dikerjakan sendiri di rumah.  Karena beralasan dengan mengelola sendiri kebersihan pakaian keluarga pakaian akan lebih bersi, rapi dan efisien.

Bagi ibu-ibu yang masih setia dengan urusan ini, ada beberapa tips agar dalam proses menyetrika dapat berjalan dengan cepat, mendapat hasil setrikaan yang rapi dan mendapat bonus inspirasi.

Pertama, jemurlah dengan rapi karena dengan menjemurnya secara rapi akan mengurangi lipatan-lipatan pada pakaian, sehingga akan mempermudah saat menyetrikanya. Ilmu yang diberikan oleh Simbah Kakung saya yang memberikan contoh kepada saya saat masih belajar menjemur pakaian pertama kali “Menawa memeni kuwi sing rapi, dikebutke dhisik, dijereng, adhepe dipadhakake, gulone aja di paske tekane srengenge” kalau dalam Bahasa Indonesia menjemur pakaian itu yang rapi, dikibaskan dulu, direntangkan, hadapkan kearah yang sama, kerah baju jangan diarahkan kearah matahari dengan harapan kerah baju tidak berubah warna terkena paparan sinar matahari terlalu lama.

Kedua, setelah pakaian kering segera angkat dari jemuran kemudian dilipat dengan rapi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerapian pakaian, selain itu hawa panas yang masih tersisa pada pakaian saat dijemur akan memberi keuntungan yaitu menambah kerapian lipatan sehingga lebih mudah disetrika. Ruangan yang biasanya kita gunakan untuk menyimpan pakaian pasca diangakat dari jemuran akan terlihat rapi, ruangan terbebas dengan tumpukan baju yang belum disetrika. Sehingga akan terbebas juga dari sarang nyamuk, perlu diketahui juga bahwa nyamuk sangat suka ngumpet dibalik tumpukan baju lho.

Ketiga, disiplim membagi waktu dengan meluangkan waktu kurang lebih tigapuluh menit sampai satu jam perhari. Benar atau benar ibu-ibu? Bila Semua pekerjaan itu harus kita lakukan dengan istiqomah? Termasuk menyetrika baju. Bila kita menunda-nundanya akan bertambah pula pekerjaan kita diakhir minggu. Jadi ketika kita sudah menjadwalkan misalnya empat puluh menit untuk menyetrika, harus kita gunakan waktu itu sebaik-baiknya untuk menyetrika. Bila ternyata dengan empat puluh menit belum selesai, ya matikan saja setrikaan kemudian besok bisa dilanjut lagi. Saya yakin hal ini tidak akan membuat kita kelelahan, berbeda bila kita harus menyetrika berjam-jam. Perlu dicoba dan dipraktikkan ya ibu-ibu, menyetrika baju yang sudah dilipat sebelumnya akan memberikan efek mudah disetrika dan lebih rapi hasil setrikaannya.

Keempat, mendapat inspirasi dari proses berdiam diri saat menyetrika. Saat kita sedang menyetrika, biasanya kita dapat berfikir jernih. Karena saat itu kita tidak sedang mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Hanya satu pekerjaan saja yaitu menyetrika, jadi kita bisa sambil berfikir ide-ide baru. Misal mereka-reka masakan yang akan kita berikan ke si Kecil, mereka-reka ide kreativitas belajar bersama anak-anak, atau mereka-reka sebuah cerita yang setelah selesai menyetrika bisa kita tulis menjadi sebuah cerita. Seperti saya menulis tips ini, ide ini saya temukan saat tadi saya sedang menyetrika. Dan terakhir selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Jumat, 19 November 2021

Pilih mana?

Baru saja saya membaca sebuah postingan yang menggelitik untuk saya othak-athik. Yaitu dua pilihan, pilih mana punya suami gaji dua puluh juta jarang pulang atau gaji tiga juta ketemu setiap hari? Pastinya akan ada dua jawaban dengan banyak alasan. Mungkin juga memilih satu jawaban kemaruk yaitu memilih dekat dengan suami dengan gaji dua puluh tiga juta. Banyak kemungkinan yang akan kita lewati dalam kehidupan ini, jalan kehidupan ini tidak akan melulu mulus, lurus halus tanpa hambatan. Kita bisa bebas memilih yang kita suka, tapi Allah lah yang akan menentukan jalan yang terbaik bagi kita.

Kita bisa menyebut sebuah rasa, karena kita telah merasakan rasa itu. Tau apa itu rasa bahagia, karena pernah merasakan menderita. Tau apa itu rasa sakit, karena pernah merasakan sehat, dan berbagai rasa yang lainnya. Ujian kehidupan ini akan mendewasakan, kita tidak akan tau apa yang akan terjadi kelak dikemudian hari. Kita hanya bisa menulis sebuah visi dan misi, kemudian mengusahakan untuk meraihnya. Didalamya akan kita temukan berbagai rasa itu, rasa nano-nanonya kehidupan. Baik ketika kita bisa selalu bersama ataupun hidup berjauhan dengan pasangan hidup kita, masalah tetap akan datang sebagai bumbu sedapnya kehidupan.

Masuk kedalam sebuah fase kehidupan berumah tangga, sebuah fase setelah beberapa fase kehidupan telah dilewati sebelumnya. Selamat bagi mereka yang telah memasuki fase ini. Fase dimana banyak kejutan-kejutan yang tak dinyana. Termasuk tadi, sebuah pilihan atau lebih tepatnya takdir yang Allah berikan. Rumah tangga yang bisa selalu bersama dimanapun berada. Atau sebuah rumah tangga yang tertakdir merasakan bagaimana menjadi sebuah keluarga dengan anggota yang karena sebuah hal harus berjarak tempat maupun waktunya.

Ketika kita tertakdir mengalami LDM (Long Distance Mariage) dengan gaji suami duapuluh juta, kurang atau lebih, disana akan kita temukan masalah yang hampir sama yaitu sebuah perjuangan yang berat. Kita mengalami tempaan pendewasaan, karena dituntut untuk pandai mengolah rasa. Kelihatannya kalau semua keluarga ditanya tentang harapan, pastinya berharap bisa terus bersama dengan tercukupi semua kebutuhan. Tetapi ternyata ada keluarga yang kebagian ujian ini, jalan keluar dari masalah ini adalah dengan selalu bersabar dan bersyukur. Saling menasehati untuk selalu bersabar dan bersyukur itu mudah, ternyata implementasinya dalam kehidupan ini sangatlah berat.

Contoh sederhana salah satu yang akan dilalui adalah dalam menerapkan pembiasaan ibadah anak. Bila melihat kekompakan suami istri yang dapat mengajak anak-anaknya sholat berjamaah di masjid. Pastinya melihat hal ini sudah lumayan menguras emosi ya. Emosi rasa iri, rasa iri dalam kebaikan lho ya, boleh kan? Bagaimana dengan perasaan seorang ibu yang berjauhan dengan suami dengan anak laki-laki yang menjadi tanggung jawabnya? Bukankah seorang wanita memiliki keterbatasan untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid? Iya kalau jarak rumah dengan masjid berdekatan, anak-anak bisa berangkat sendiri ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Bagaimana bila jarak rumahnya jauh? Padahal anak laki-lakinya membutuhkan pembelajaran? Bagaimana membiasakan sholat subuhnya? Bagaimana dengan sholat Jumatnya? Yang pasti ibu harus berjuang lebih dari ibu-ibu yang lainnya, pastinya berat tetapi hal ini harus dijalani.

Diatas tadi baru contoh sederhana ya guys, padalah masalah yang lebih kompleks akan banyak ditemui dalam perjalanan rumah tangga. Bukan masalah penghasilan tiga juta, dua puluh juta atau dua puluh tiga juta, rejeki sudah diatur olehNya. Ternyata kitapun hanya sekedar bisa memilih, semua skenario telah disetting secara indah oleh pemilik hidup ini. Bila masalah-masalah yang dihadapi ditulis disini semua, sebagai sarana penumpahan unek-unek dihati, rasanya saya tidak sanggup melakukannya. Heheh karena pasti nanti akan capek menulisnya. Pada akhirnya harus banyak bersyukur dan bersabar. Bila kita tertakdir harus berjauhan dengan suami atau istri ya harus mengisi penuh pundi-pundi hati dengan rasa ini. Pun bagi yang tertakdir bisa selalu bersama dengan suami atau istri ya sama harus bertambah rasa syukurnya. Karena banyak sekali nikmat dariNya, bila pepehonan dijadikan pena dan air laut dijadikan tintanya tak akan sanggup menulis semua nikmatNya. Maka apapun yang kita hadapi saat ini mari bersyukur, bersabar dan selalu bersemangat.   

Rabu, 17 November 2021

Beban dan Perjalanan



Saat merasa beban hidup yang sedang dirasakan teramat berat, apa yang anda rasakan? Merasa paling menderita sedunia? Emosi tak menentu? Bangun tidur tidak sesegar biasanya. Apa yang salah dengan hari ini? Bukankah hari ini seperti hari-hari biasanya, duapuluh empat jam lamanya. Yang harus kita sambut dengan senyum ceria dan semangat yang bergelora didada. Tetapi kenapa rasa hati ini ada yang mengganjal? Ada apa dengannya? Ayo semangat! Ada tantangan untuk hari ini, yang harus kita pecahkan, ada jalan-jalan yang harus kita lewati, ada cerita yang harus kita lalui, ya hari ini istimewa.

Bila kita merasa bodoh, hari ini ada banyak pelajaran yang bisa kita pelajari. Bila hari ini dirasa sepi, ayo bersama keluar melihat dunia. Bila dada terasa sesak dengan berbagai macam masalah, ayo mendekatlah denganNya. Buka kitabNya, bacalah dengan perlahan kemudian bacalah terjemahan perayatnya. Nanti akan kita temui jalan keluar dari masalah kita, ternyata setelahnya kita akan rasakan lapang dada kita. Ternyata semua itu bersumber dari hati kita, hati yang kurang bersyukur, merasa paling berat beban hidupnya. Padahal tadi pagi kita bisa membuka mata, melihat dengan jelas. Setelah membuka mata, kita bisa bangkit dan kaki kita dapat berjalan dengan tegak. Berjalan ke kamar mandi kemudian dapat menikmati rasa buang air kecil atau besar dengan nyaman. Tidak ada rasa nyeri ataupun sakit, semua berjalan dengan normal. Itu berarti badan kita sehat, haruskah kita merasa nelangsa dengan itu semua?

Kemudian kita beranjak menunaikan sholat malam, semua bisa dilaksanakan dengan nikmat. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kau dustakan? Semua anggota keluarga sehat, suami/istri dan anak-anak, kita bangunkan untuk melaksanakan sholat berjamaah juga mudah. Maka kemudahan mana lagi yang kita inginkan? Bukankah itu awal pagi yang indah? Tidak seharusnya kita menyalahkan keaadaan kita yang berbeda dengan yang lainnya. Cukup kita syukuri atas apa saja yang kita nikmati pagi ini.

Setiap orang membawa masalahnya masing-masing, dipikul sendiri-sendiri. Semua akan terasa berat bila dari awal kita membawanya, memang sudah merasa tidak ikhlas. Akan terus bertambah berat ketika jalan yang kita lalui menanjak dan terjal. Mungkin juga ketika jalan sedang menurun beban tetaplah berat. Pun ketika jalan rata, tetap terasa berat. Berbeda bila dari awal kita sudah bersiap dan berusaha menerima semua beban dalam perjalanan. Kita akan menyiapkan hati yang siap membawa semua beban, menyiapkan badan yang sehat untuk menumpu beratnya beban, menyiapkan cara agar bisa meringankan beban.

Begitulah hidup, lihatlah semua membawa bebannya sendiri-sendiri. Ada yang kelihatan ringan saja, padahal yang ada dipunggungnya adalah beban yang lebih berat dari yang sedang kita bawa. Ada juga yang masih tetap tersenyum, walau beban yang sedang digendongnya sampai membuat badannya terbungkuk. Bersyukurlah disebelah kita ada yang menggandeng, mendorong dari belakang, menarik dari depan, membantu membawakan beban itu. Bersyukurlah walau dari jarak jauh, tetap ada yang menyemangati, memfasilitasi, membantu meringankan beban itu walau secara tidak langsung.

Bismillah pasti semua bisa dilalui, teruslah berjalan dengan langkah pasti, beristirahatlah sebentar bila memang beban itu cukup membuat badanmu penat. Barang sejenak menepilah ditepi jalan sembari melihat lalu lalangnya orang berjalan dengan beban dipundaknya. Bersyukurlah, tarik nafas panjang dan lanjutkan perjalananmu kembali.

Refleksi Di Hari Guru

 Di mana letak bahagiaku menjadi seorang guru? Bagiku, jawabannya sederhana: Menjadi guru adalah jalan setapak menuju kebahagiaan itu sendir...